Uncategorized

3 (+1) Cara Bangkit Dari Bangkrut Yang Tidak Pernah Anda Pikirkan Sebelumnya

Semua pasti tidak mau bangkrut. Rasanya langit mau runtuh, mata berkunang-kunang dan tiba-tiba saja badan jadi lemes selemes-lemesnya. Di kamus bahasa Indonesia, bangkrut artinya menderita kerugian besar hingga jatuh; gulung tikar. Kalau sahabat saya, Mas Jaya Setiabudi mengartikan bangkrut (dalam bukunya : Kitab Anti Bangkrut) sebagai : tidak ada duit untuk melanjutkan aktivitas bisnis.

Sejauh dari yang saya pelajari, ada dua sikap lanjutan yang bisa muncul setelah mengalami kebangkrutan. Yang pertama adalah betul-betul jatuh, pesimis dan mati (kebanyakan bunuh diri). Atau bangkit lagi, berusaha belajar dari kebangkrutannya dan bangkit kembali. Jujur saja, memilih untuk mati jauh lebih mudah jalannya daripada melanjutkan apa yang tersisa. Tapi tentu saja, resiko ditanggung sendiri. Kalau anda memilih untuk bangkit lagi, disini juga ada resiko yang harus ditanggung. Bisa jadi anda menjadi semakin pusing karena hutang akan menumpuk atau bergerak pelan-pelan sesuai dengan kemampuan, tapi akan memerlukan waktu untuk berjalan lagi.

Saya pernah mengalami bangkrut di tahun 2009/10an. Cerita ini menjadi bagian dari hidup saya yang tidak akan pernah saya lupakan. Bisnis yang saya rintis tiba-tiba tidak bisa lagi dijalankan. Hutang saya menumpuk hingga melebihi aset yang saya punyai. Hampir selama setahun saya berusaha keras agar bisnisnya jalan lagi, tetapi secara tidak sadar saya menumpuk beban ke diri saya sendiri karena harus memikirkan membayar karyawan, sewa kantor sampai dengan banyak biaya variabel yang harus di-cover.

Alhamdulillah saya bisa bangkit perlahan. Cerita lain dari beberapa teman baik yang pernah mengalami kebangkrutan juga beragam. Banyak yang memilih untuk pindah balik lagi ke kota asalnya, atau ada juga yang memutuskan untuk memangkas keinginan-keinginan yang tidak perlu. Jenis bisnis yang dijalankan pun bermacam-macam. Ada seorang teman yang berbisnis pencucian mobil, ada yang bisnis minimarket ada yang berbisnis jual beli mobil dan ada pula yang berbisnis properti; kesemuanya bangkrut total. Jadi, tidak ada bisnis di dunia ini yang tidak mungkin mengalami kebangkrutan.

Yang perlu digarisbawahi adalah tidak ada seorangpun yang menginginkan untuk bangkrut. Bangkrut juga bukan kata-kata yang mengindikasikan hal-hal yang pesimis. Kalau memang mau bangkrut, ya bangkrut saja. Ada yang bangkrut karena kena tipu, ada yang karena salah pengelolaan, ada yang salah strategi ada pula yang karena salah milih partner bisnis. Asal usul bangkrut bisa dari mana saja.

Oleh karena yang cerita tentang kebangkrutannya tidak hanya dari satu jenis bisnis saja, maka saya mulai menyambungkan cerita yang satu dengan yang lainnya. Seorang teman yang ditipu 3 milyar, seketika bangkrut tanpa bisa apa-apa. Hanya dalam waktu kurang dari 6 bulan sudah bangkit kembali. Sekarang hutangnya sudah likuid kembali setelah beberapa saat gagal bayar. Teman yang lain, bangkrut karena gaya hidupnya yang keterlaluan, sekarang juga sudah bangkit dan menjalankan bisnisnya dengan hati yang jauh lebih lapang.

Cerita-cerita ini sungguh mengharukan. Bahkan saya sampai berencana membuat sebuah buku tentang bagaimana menghadapi kebangkrutan. Karena menurut saya, cerita mereka ini harus didengar oleh seluruh pebisnis yang ada di dunia ini. Biar bisa menjadi inspirasi, bukan hanya inspirasi bisnis tetapi juga inspirasi hidup.

Tetapi yang ingin saya tulis disini bukan bagaimana keahlian teman-teman saya ini bangkit. Jadi ingat cerita Donald Trump yang pernah juga nyaris bangkrut, gak mampu bayar bank tetapi justru malah diberikan lagi tambahan hutang untuk bisnisnya. Khusus untuk yang berhubungan dengan keahlian kita, integritas adalah nomer satu. Ketika bangkrut, integritas akan menyelamatkan kita. Donald Trump dengan integritasnya sebagai pebisnis bisa meyakinkan bank kalau dia tetap memerlukan support walaupun pada saat jatuh, dan bank percaya.

Integritas ini, menurut saya, berhubungan dengan rekam jejak. Segala tentang apa yang sudah kita lakukan.

A person of integrity is someone who is the same person in all situations ~ by Fabquote

Integritaslah yang berbicara ketika saya memutuskan untuk mundur dari jabatan di kantor tempat saya bekerja. Juga karena integritaslah, saya memilih untuk tidak lagi bermain blackhat di internet marketing. Ups, maaf yang kedua ini sih sebetulnya pilihan. Gak ada hubungannya dengan integritas 

Nah, setelah rekam jejak. Ada lagi yang harus dilakukan. Ini, kalau teman saya bilang, berhubungan dengan hal-hal diluar keduniawian. Betul ketika kita jatuh bangkrut, harus pasrah diri sepenuhnya sama yang Diatas. Rejeki toh memang punya Dia. Tetapi ke 3 jurus, dan tambahan 1 ini, adalah pola hebat yang tidak semua orang tahu, tetapi sudah dipraktekkan berkali-kali oleh yang bangkrut dan semuanya bangkit lagi.

1. Sedekah

Kapan saat terbaik untuk bersedekah? Jawabannya cuma satu, pada saat kita tidak punya uang. Kalau kita dalam posisi banyak uang kemudian bersedekah, hanya akan membuat kita jadi mainstream. Seperti kebanyakan orang lain. Tetapi bayangkan, pada saat kita perlu uang (kondisi bangkrut misalnya) dan kita relakan uang kita (mungkin uang terakhir yang dipunyai) untuk disedekahkan. Ini baru hebat.

Saya sendiri sempat bingung ketika diceritakan oleh salah satu pengusaha travel agent yang sangat sukses di Bandung. Teman saya juga. Bagaimana dia memulai bisnis dengan 150 ribu. Bukan untuk modal, tetapi untuk di sedekahkan. Ceritanya adalah teman saya ini dalam kondisi yang sangat kepepet. Istrinya sedang hamil tua, kontrakan harus segera dibayarkan dan di kantongnya tinggal 150 ribu dan dia tidak bekerja. Dalam kondisi yang kalut, dia memutuskan untuk pergi ke salah satu panti asuhan di Bandung dan menceritakan semua problemnya (sembari menangis sedih) ke pengelolanya. Kemudian di akhir, dia memberikan 100 ribu ke Panti Asuhan tersebut dan 50 ribu sisanya untuk pulang.

Doanya langsung dijawab oleh Tuhan. Di dalam angkot perjalanan pulang – bahkan belum sampai rumah, salah satu universitas di Bandung menelpon dan memintanya untuk membawa mahasiswa mereka ke Bali untuk study tour. Sejak saat itu, bisnisnya di Tour & Travel melejit tidak terbendung. Yang hebatnya lagi, beliau memimpin bisnisnya dengan sangat anggun. Dalam berbagai kesempatan, beliau selalu ingin karyawan nya maju. Beberapa karyawan nya diberikan franchise bisnis travel agent yang dipunyainya secara gratis. Beliau bilang, mengelola bisnis itu seperti mempunyai keluarga, selalu berusaha untuk dekat dan mendengarkan keluh kesah anggota keluarga yang lain. Luar biasa.

Titik balik dari cerita di atas sebetulnya pada kejadian ketika teman saya ini bersedekah ‘lebih besar’ ke Panti Asuhan daripada yang dia kantongi sendiri. Berarti tingkat kepasrahannya, bahwa rejeki diberikan oleh Tuhan, sudah diatas ambang batas orang lain. Kepercayaannya bahwa Tuhan tidak akan menyengsarakan dirinya, bahkan ketika dia tidak tahu caranya, mengalahkan segala akal sehat. Disitulah semuanya dimulai. sama saja dengan bagaimana kita bisa percaya bahwa Allah itu lebih dekat dari urat nadi kita. Atau kepercayaan kita akan surga dan neraka, walaupun belum ada satupun testimoni yang kita dapatkan.

Tingkat kepasrahan, dan keikhlasan; ini yang memicu balik kenihilan rejeki menjadi mengalir deras tak terbendung. Sedekah hanya alat saja untuk mengukur tingkat keikhlasan kita. Jadi, bersedekahlah lebih banyak pada saat kita bangkrut. Dan lebih banyak lagi pada saat kita sukses.

2. Ibu

Ini mutlak. Tidak ada satu agama pun yang tidak mengagungkan seorang ibu. Semua orang sukses yang saya kenal tidak ada yang mengabaikan ibunya. Terakhir kali kejadian ‘aneh’ yang pernah saya temui adalah ketika saya membantu salah satu perusahaan direct selling terbesar di Indonesia dengan omset 4 milyar sehari. Pemiliknya sungguh sangat sayang kepada ibunya. Setiap kali pembukaan kantor cabang baru di daerah, bukan direktur yang potong pita, tetapi beliau menyerahkan ke ibunya untuk melakukan itu. Oh ya, kantor cabangnya sudah lebih dari 300 di seluruh Indonesia.

Dalam setiap kesempatan, beliau selalu membawa serta ibunya. Sangat terlihat hubungan batin yang mendalam diantara keduanya. Ketika beliau sedang outing dengan karyawan nya di Lombok, saya ingat betul itu hari senin pagi, di kabari kalau ibunya meninggal. Serta merta beliau meninggalkan outing dan menuju Jakarta. Hampir semua orang yang melihat beliau hari itu di rumah duka sepakat betapa tegarnya beliau menghadapi kematian ibunya. Setelah berada di rumah duka seharian, akhirnya beliau pulang ke rumahnya. Pagi harinya, Selasa, saya dikejutkan dengan kabar beliau menyusul sang ibu, meninggal dunia, dalam posisi bersimpuh. Setelah itu kami semua sadar, di waktu siang ketika berada di rumah duka, beliau ini menahan rasa duka yang amat mendalam.

Saya tidak akan mempercayai cerita ini kalau saya tidak mengalami sendiri. Menyaksikan bagaimana beliau dan ibunya dikuburkan di waktu yang sama dan berdampingan. Selalu merinding apabila mengingat pengalaman saya yang satu ini. Apa hubungannya dengan bangkrut. Well, tidak ada. Tapi paling tidak, kita harus mengerti bahwa kesuksesan tidak akan bisa lepas dari apa yang kita lakukan terhadap Ibu kita.

Seorang teman yang lain ditipu milyaran rekan bisnisnya dan bangkrut. Kemudian dia memutuskan untuk pindah ke Bandung. Hal pertama yang dia lakukan adalah datang ke rumah orang tuanya. Mengambil baskom berisi air dan dia cuci kaki ibunya sembari bersimpuh meminta maaf apabila ada salah yang selama ini dia lakukan. Sejak saat itu, dalam waktu kurang dari 6 bulan, dia bisa bangkit kembali dan terus melejit sampai dengan sekarang.

Tidak ada yang rasional disini, tetapi justru itu yang membuat kita lebih mawas diri. Ini adalah, lagi-lagi, simbol kepasrahan dan keikhlasan. Kembali lagi seperti masa kecil dahulu, ketika kita tidak tahu harus berbuat apa, kepada siapa kita akan mengadu? Ibu. Jadi untuk meruntuhkan semua dosa dan perbuatan buruk kita pada saat sukses, kepada siapa kita harus berbalik. Hanya satu, Ibu.

3. Berpikir positif

Pertanyaannya adalah, bisakah kita perpikir positif pada saat kita terjatuh? Sulit memang, tetapi harus. Hanya dengan perpikir positif lah aura ditubuh kita terus bergerak kearah kebaikan. Penuhi lingkungan kita dengan yang positif juga. Jangan sudah bangkrut, kemudian kita berkumpul dengan sesama orang bangkrut.

Pikiran positif bisa direfleksikan dari semua hal. Berbicara yang positif, tetap berkumpul dengan teman-teman yang sukses, atau bahkan tidak mencari-cari kesalahan orang lain yang menyebabkan kita bangkrut. Berpikir positif membuat kita mencari solusi, bukan mengintimasi diri mencari penyebab kebangkrutan yang kita alami.

Semua teman-teman saya yang sukses atau yang bangkit dari bangkrut berpikiran positif. Semuanya. Ini terlihat dengan jelas. Tidak mudah pada saat kita terjatuh, pasrah dan ikhlas; di saat yang bersamaan kita harus selalu positif. Tetapi tidak ada jalan lain. Ini salah satu pola bangkit yang saya amati.

Salah satu teman baik saya yang sukses bangkit dari bangkrut bahkan pernah ditipu (lagi) sejumlah uang oleh orang dari luar negeri dan tidak ada raut muka penyesalan dimatanya. Dia hanya bilang, mungkin dia (yang menipunya) sedang membutuhkan uang. Jadi ikhlaskan saja. Luar biasa!

Ketiga pola bangkit dari bangkrut di atas sungguh sangat tidak terbantahkan. Tetapi masih ada satu lagi yang membuat perjalanan bangkit kita menjadi sempurna. Yaitu tambahan satu tips di bawah ini.

4. Silaturahmi

Ketika kita bangkrut, rasanya semua teman ikutan menjauh. Mereka pikir, kalau kita kontak pasti akan pinjam uang. Diposisi paling bawah inilah sejatinya akan sangat ketahuan, yang mana teman sejati atau yang selama ini hanya memanfaatkan kita untuk kepentingannya. Banyak yang akan menawarkan bantuan, tetapi yang bersungguh-sungguh tidak akan sebanyak yang kita pikir.

Jadi, bersilaturahmilah dengan siapa saja. Buka lagi list buku telephone yang ada di handphone. SMS teman-teman lama yang selama ini tidak pernah kita ajak silaturahmi. Ajak ketemu. Jangan sekalipun kita mengajak bertemu untuk meminjam uang. Hindari itu. Tapi ajaklah bertemu betul-betul untuk bersilaturahmi. Cerita-cerita tentang hal lama yang membuat tertawa dan senang.

Dari sambungan silaturahmi ini biasanya muncul hal yang tidak terduga. Ada saja teman yang merekomendasikan kita untuk projectnya, atau mungkin informasi tentang peluang bisnis yang lain. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi ke depan, tetapi adalah menjadi tugas kita untuk melihat atau meraih setiap peluang yang mungkin ada. Bahkan pada saat bangkrut sekalipun.

Saya tetap berharap teman-teman yang membaca tulisan ini tidak dalam kondisi yang bangkrut. Tetapi apabila iya, silakan coba 3+1 formula di atas. Kalau anda melakukannya dengan sepenuh hati, dijamin anda akan bangkit dari bangkrut dengan sangat cepat. Ingat saja, bangkrut bukan akhir segalanya. Bahkan bisa menjadi permulaan dari sesuatu yang lebih baik. Amin.

By Wientor Rah Mada in Netpreneurship

Leave a Reply

Open chat
Hubungi Tim Jnius
Hello, Sobat Jnius.
Ada yang bisa kami bantu ?